1.
San Carlo alle Quattro Fontane
Contoh bangunan klasik adalah seperti San Carlo alle Quattro Fontane, bangunan ini
tipe bangunan ibadah yang berfungsi untuk beribadah (gereja) ( 1638-41) di Roma. Dirancang oleh Francesco Borromini (
1599-1677), merupakan salah
satu contoh arsitektur terkemuka bergaya Barok. Kompleksitas yang geometris
dalam menyambungkan bujur berbentuk oval dan lingkaran menciptakan keluasan di
dalam sudut gereja yang kecil, yang mana berdiri sangat dekat dari Palazzo
Barberini ( jendela yang dirancang oleh Borromini) dan piazza (serambi). (lihat
gambar 1.1 dan 1.2)
(gambar 1.1) San Carlo Alle Quattro dilihat dari atas dan (gambar 1.2)
Bagian muka gedung San Carlo alle quattro fontane
(gambar 1.3) Halaman San Carlo alle quattro fontane.dan Rencana denah adalah suatu persimpangan yang gegabah dari bentuk oval. (lihat gambar 1.4)
Di sudut dekat air mancur terdapat
suatu lukisan tentang Neptunus berbaring telentang. Kubah dari gereja mempunyai
suatu pola teladan kopor salib kompleks, bujur telur, dan sudut enam. Dari
denah ini kita bisa lihat bahwa denah lantai dasar terdiri dari tiga ruangan
yang sesuai untuk bermaca-macam fungsi. Memasuki gereja ini kita akan
menjumpai sebuah nave ( ruang tengah gereja) yang berbentuk oval yang
menyediakan keangka spasial untuk rute prosesi umat.
Arah gerak dipertegas oleh kubah
barrel yang memanjang dan kolom-kolom pada kedua sisi nave, yang pada seetiap
kasus membentuk relung, nave berakhir pada bagian gereja yang terpenting yaitu
mimbar. Ruang ini diperluas pada ketiga bagian sisi-sisinya melalui apse-apse
(bagian gereja yang menonjol dan berbetuk setengah bundar). Bagian belakang
apse tenagh merupakan dinding kolomn. Melaluinya paduan suara dapat dilihat.

Gambar (1.1)
Stoa Attalus yang telah dipugar, Athena
Stoa Attalus yang telah dipugar, Athena
Arsitektur ( bangunan yang dikerjakan menjadi suatu desain yang estetik) mulai berakhir di Yunani dari akhir periode Mycenaean ( sekitar 1200 BC) sampai abad ke 7 BC, manakala kehidupan kota dan kemakmuran kembali dan sampai batas di mana gedung pemerintah dapat dikerjakan. Tetapi sejak bangunan Yunani kuno berada di Archaic dan awal periode klasik dibuat dari kayu atau tanah liat, tidak ada apapun sisa reruntuhan di antara bangunan tersebut kecuali tanah dan di sana hampir tidak ada sumber tertulis tentang awal arsitektur atau uraian dari bangunan tersebut.
Kebanyakan pengetahuan tentang
Arsitektur Yunani datang dari minoritas bangunan yang menyangkut gaya
klasik,Hellenistic dan periode Roma (sejak arsitektur roma mengikuti gaya
Yunani). Ini berarti hanya kuil yang bangunannya kuat yang bertahan. Arsitektur, seperti lukisan dan pahatan tidak dilihat
sebagai suatu " seni" pada Periode Yunani jaman kuno. Arsitek adalah
seorang tukang yang ahli yang dipekerjakan oleh bangsawan atau orang kaya.
Tidak ada perbedaan antara arsitek dan pemborong bangunan. Arsitek merancang
bangunan, menyewa tenaga kerja dan tenaga ahli untuk membangun dan bertanggung
jawab atas anggaran dan penyelesaian tepat waktu kedua-duanya. Ia tidak
menikmati statusnya, tidak seperti arsitek pada bangunan modern. Bahkan nama
arsitek tidak dikenal sebelum abad ke 5. Seorang arsitek seperti Iktinos, yang
merancang Parthenon, yang hari ini dinilai sebagai seorang arsitektur yang
genius, diperlakukan pada waktu itu dalam seumur hidupnya tidak lebih daripada
seorang pedagang.
Bentuk standar Gedung pemerintah
Yunani dikenal mempunyai bantuk yang sama dari Parthenon, dan bahkan bangsa
Roma membangun bangunan mereka ,engikuti gaya Yunani, seperti Kuil untuk semua
dewa di Roma.
Bangunan pada umumnya membentuk
suatu dadu atau kubus ataupun suatu segiempat panjang dan dibuat dari batu
gamping. Pualam adalah suatu material bangunan mahal di Yunani: pualam mutu
tinggi datang hanya dari Mt Pentelus di Attica dan dari beberapa pulau seperti
Paros, dan jalur transportasinya sangat sulit. Batu pualam digunakan dalam
pahatan dekorasi, tidak berstruktur, kecuali di dalam bangunan paling agung
periode zaman Klasik seperti Parthenon.
Gambar (1.2)
Bagian atas dari Yunani Akademi Nasional yang dibangun di athena, mempertunjukkan pahatan pediment.
Titik dari atap Yunani yang rendah
membuat suatu bentuk persegi tiga pada masing-masing tepi bangunan, pediment,
yang mana pada umumnya diisi dengan dekorasi pahatan. Sepanjang sisi dari
bangunan, antara kolom dan atap, adalah suatu baris blok sekarang dikenal
sebagai entablature, yang permukaannya menyajikan suatu ruangang untuk memahat,
dekorasi yang dikenal sebagai metopes dan triglyphs. Tidak ada yang dapat
menyelamatkan bagunan Yunani dari keruntuhan, tetapi bangunan aslinya dapat
dilihat pada beberapa tiruan dari bangunan modern Yunani, seperti Yunani
Akademi Nasional yang membangun di Athena, lihat gambar (1.2)
Format Arsitektur umum lainnya yang
digunakan dalam arsitektur Yunani adalah tholos, suatu struktur lingkaran
dimana contoh yang terbaik adalah pada Delphi (lihat gambar 1.3) dan tujuan
religiusnya adalah melayani pemuja kuil, propylon atau serambi, yang mengapit
pintu masuk ke ruangan terbuka dan cagar alam ( contoh yang terbaik yang
dikenal adalah pada Acropolis Athens), dan stoa, suatu aula yang sempit panjang
dengan suatu colonnade terbuka pada satu sisi yang digunakan untuk mengatur
barisan kolom kuil Yunani. Suatu stoa yang telah dipugar adalah Stoa Attalus
dapat dilihat di Athena. (lihat gambar 1.1)
Dasar dari segiempat panjang atau
kubus pada umumnya diapit oleh colonnades ( baris kolom) pada bagian atas baik
dua maupun pada keempat sisinya. Ini adalah format dari Parthenon. Sebagai
alternatif, suatu bangunan berbentuk kubus akan membuat suatu serambi
bertiang-tiang ( atau pronaos dalam) istilah Yunani) sebagai pembentukan pintu
masuknya, seperti terlihat pada setiap Kuil untuk semua dewa. Yunani memahami
prinsip dari pekerjaan menembok bangunan lengkung tetapi penggunaannya sangat
sedikit dalam bangunan Yunani dan bangunan Yunani tidak meletakkan kubah pada
atas bangunan mereka tetapi mengatapi bangunan mereka dengan balok kayu yang
ditutup dengan terra cotta ( atau adakalanya batu pualam).
Kuil adalah tempat terbaik yang
dikenal umum dalam dunia arsitektural. Kuil tidak mempunyai fungsi yang sama
dalam melayani seperti pada gerja modern. Untuk satu hal, altar memikul langit
yang terbuka di dalam temenos atau tempat pengorbanan suci. Kuil bertindak
sebagai tempat penyimpanan benda-benda yang dianggap berhubungan langsung
dengan dewa yang dipuja. Kuil adalah suatu tempat untuk pemuja dewa untuk
meninggalkan sesaji yang memenuhi nazar mereka, seperti persembahan patung,
Pada bagian dalam kuil, cella, begitu para pemuja sebagian besar menyimpan
barang pemujaan mereka dalam ruangan besi dan gudang. Dan bangunan itu pada
umumnya dilapisi oleh baris kolom yang lain .
Tiap-Tiap Kota di Yunani dengan
segala ukurannya juga mempunyai suatu palaestra atau ruang olah raga. Ruangan
ini sangat terbuka dengan atap terbuka menghadap ke langit dan dilapisi dengan
colonnades, digunakan untuk kejuaraan atletik dan latihan juga sebagai pusat
perkumpulan kegiatan sosial dan juga tempat perkumpulan kaum pria.
Kota Yunani juga perlu sedikitnya
satu bouleuterion atau sidang, suatu bangunan yang besar yang sebagai ruang
pertemuanyang menempatkan dewan kota ( boule) dan sebagai gedung pengadilan.
Karena Yunani tidak menggunakan bangunan lengkung atau kubah, mereka tidak bisa
membangun ruang besar tanpa didukung oleh atap, bouleuterion adalah baris tiang
dan kolom internal yang digunakan untuk menopang atap atas.
Terakhir, tiap-tiap Kota di Yunani
mempunyai suatu teater. Ini digunakan untuk pertemuan-pertemuan publik atau
drama. Acara di dalam teater berkisar pada abad ke 6 BC ( lihat Teater Yunani).
Teater pada umumnya yang ditetapkan dalam suatu lereng bukit di luar kota itu ,
dan mempunyai tempat duduk berupa barisan yang ditetapkan dalam suatu seperdua
lingkaran di sekitar area pusat orkes atau acara. Di belakang orkes adalah
suatu bangunan rendah yang disebut skene, yang mana bertindak sebagai suatu
gudang, suatu kamar ganti, dan juga sebagai latar belakang pada tindakan yang
berlangsung di dalam orkes atau pertunjukkan tersebut. Sejumlah Teater Yunani
hampir tetap utuh, yang terbaik yang dikenal adalah teater Epidaurus.
Ada dua gaya utama dalam Arsitektur
Yunani, yaitu Doric dan Ionik. Nama ini digunakan hanya untuk bangsa Yunani
sendiri. dan mencerminkan kepercayaan mereka pada Ionic dan Doric dari zaman
kegelapan, tetapi ini tidak sepenuhnya benar. gaya Doric digunakan di tanah
daratan Yunani dan tersebar dari sana pada wilayah jajahan Yunani di Italia.
gaya Yang bersifat ionik digunakan di kota besar Ionia ( sekarang pantai barat
Turki) dan sebagian dari pulau Aegean.
Gaya Doric jadi lebih keras dan
formal, yang bersifat ionik jadi lebih longgar dan dekoratif. Gaya Corinthian
yang mempunyai banyak hiasan adalah perkembangan akhir dari gaya ionik. Gaya
ini dikenal hingga ke ibu kota, tetapi ada perbedaan banyak dalam poin-poin
desain dan dekorasi antara gaya tersebut. Lihatlah artikel yang terpisah pada
golongan klasik. Berikut adalah conth-contoh berbagai gaya kolom pada kuil di
Yunani.
Gambar (1.6)dan (1.7)
Kuil Hephaestus, menunjukkan kolom dengan gaya Doric. Dan disampingnyaKuil Erechtheum di Athena, menunjukkan kolom dengan gaya Ionic
Kuil Hephaestus, menunjukkan kolom dengan gaya Doric. Dan disampingnyaKuil Erechtheum di Athena, menunjukkan kolom dengan gaya Ionic

Masa Renaissance sering disebut juga
masa pencerahan, karena menghidupkan kembali budaya-budaya klasik, hal ini
disebabkan banyaknya pengaruh filsuf-filsuf dari Yunani dan Romawi. Selain itu
ilmu pengetahuan, ketatanegaraan, kesenian, dan keagamaan berkembang dengan
baik. Di masa ini arsitekturnya ikut berusaha menghi-dupkan kembali kebudayaan
klasik jaman Yunani dan Romawi dengan jalur garap dan jalur pikir yang
tersendiri, tidak menggunakan jalur garap dan pikir Yunani-Romawi. Dengan
demikian, meskipun dalam wajah dan tatanan arsitektur dapat disaksikan
keserupaan, keserupaan ini adalah hasil dari penafsiran dan penalaran, bukan
semata-mata pencontohan dan bukan pula `penghadir-an kembali demi nostalgia’.
Pada masa ini, dunia keagamaan berkembang dengan pesat, terutama agama Kristen, sehingga pengaruh otorita seorang pemimpin gereja sangat kuat. Bersamaan dengan itu adalah tumbuhnya dan berseminya benih-benih ambisius dari ilmu untuk men-jajarkan diri dengan agama, yang pada saatnya nanti, akan menggantikan agama dalam perannya sebagai “penguasa semesta dan penguasa manusia”.
contoh
bangunan gaya renaissance yang memperlihatkan tiang-tiang gaya klasik.
Pemerintahan dengan sistem kerajaan
mulai digunakan, sehingga tercermin dalam bangunan-bangunan istana dan benteng
dengan bentuk klasik. Perhatikan, di sini kerajaan dipimpin oleh dua kekuasaan
yakni pertama adalah kekuasaan raja dan yang kedua adalah kekuasaan pemimin
agama. Konflik dan perebutan kekuasaan antara raja dan agama yang mewarnai
berjalannya jaman ini, kemudian diperramai lagi dengan munculnya kekuasaan baru
yakni ilmu dan pengetahaun.
Dengan demikian, di jaman ini da-pat
kita saksikan sosok perorangan yang ilmuwan, seniman dan sekaligus orang yang
religius seperti Leonardo da Vinci; namun di sisi lain dapat pula disaksikan
martir dalam keyakinan terhadap ilmu dan pengetahuannya, seperti Galileo
Galilei.
Arsitektur Renaisans (yang berjaya
dalam abad 15–17 M) memperlihatkan sejumlah ciri khas arsitektur. Munculnya
kembali langgam-langgam Yunani dan Romawi seperti bentuk tiang langgam Dorik,
Ionik, Korintia dan sebagai-nya; (meskipun pada perkembangan selanjutnya
peng-gunaan langgam tersebut mulai berkurang) dapat disam-paikan sebagai ciri
yang pertama.
Bentuk-bentuk denahnya sangat
terikat oleh dalil-dalil yang sistematik, yaitu bentuk simetris, jelas dan
teratur dengan teknik konstruksi yang bersahaja (kalau dibandingkan dengan masa
sekarang, masa abad 20 khususnya). Di satu pihak, ketaatan pada dalil-dalil ini
mencerminkan perlakuan yang diberlakukan pada arsitektur yakni, arsitektur
ditangani dengan menggunakan daya nalar atau pikiran yang rasional.
Perlakuan yang menggunakan daya
nalar ini sekaligus menjadi titik penting perjalanan arsitektur Barat mengingat
sebelumnya arsitektur sepenuhnya diperlakukan hanya dengan menggunakan daya
rasa seni bangunan. Dengan kesetiaan pada dalil itu pula sebaiknya kehadiran
detil dan perampungan yang ornamental maupun dekoratif diposisikan. Maksudnya,
unsur-unsur yang ornamental dan dekoratif dari bangunan dihadirkan sebagai
penanda dan penunjuk bagi dalil-dalil yang digunakan. Sebuah ilustrasi
sederhana dapat disampaikan di sini untuk memberikan penjelasan tentang hal
itu.
Dengan perhitungan dan pertimbangan struktur/konstruksi bangunan, maka jarak antar kolom dapat dibuat sebesar a meter. Akan tetapi, karena jarak a meter dengan tinggi kolom yang b meter tidak menghasilkan kesesuaian dengan dalil yang menunjuk pada perbandingan 2b=3a, maka di antara kedua kolom itu dimunculkanlah rupa yang tak jauh berbeda dari rupa kolom (dinamakan pilaster) sehingga nisbah (ratio) 2b:3a dapat dipenuhi.
Ringkas kata, dalam masa Renaisans
ini terjalinlah kesatuan gerak dalam berarsitektur, yakni kesa-tuan gerak nalar
dan gerak rasa. Di masa ini pula arsitektur Yunani dan Romawi ditafsir kembali
(reinterpretation) dengan menggunakan nalar (di-matematik-kan) dengan tetap
mempertahankan rupa-pokok Yunani (pedimen dan pilar/kolom yang menandai
konstruksi balok dipikul tiang)) serta Romawi (bangun dan konstruksi busur,
yakni konstruksi bagi hadirnya lubangan pada konstruksi dinding pemikul)
Tiang gaya ionik dari Bait Olympicon terkesan lebih muda. Lebih elegan dan lebih langsing. Dimana tiang-tiang beserta balok murni masuk ke dalam arsitektur Yunani. Gaya ini disebut Gaya Dorik dan lebih murni dibandingkan gaya ionik.
Setelah tahun 1600-an, arsitektur
Renaisans mulai meninggalkan gaya-gaya klasik, kemudian disambung dengan
kebudayaan Barok (Baroque) dan Rococo. Barok dan Rococo dianggap merupakan
bentuk dari kebudayaan Renaisans juga. Contoh dari aliran Barok adalah gereja
St. Peter di Roma.
Gerakan pada akhir abad 18 dikenal
dengan Neo klasik. Bentuk arsitektur yang dianggap ideal kemudian diwujudkan ke
da-lam bentukan berkonstruksi kolom dan ba-lok dan tidak hanya bentukan dari
konstruk-si dinding pemikul. Wujud arsitekturnya ju-ga dapat ditandai dengan
munculnya un-sur-unsur dekoratif seperti pedimen, pedes-tal,
entablature-terpotong dan sebagainya. Dalam sejumlah proyek dapat disaksikan
bahwa bentukan yang kanonik masih dipakai untuk diletakkan pada posisi olahan
komposisional.
Gaya ini merupakan gaya anti-rokoko
yang dapat ditemukan pada beberapa gaya arsitektur eropa pada awal abad ke 18.,
dengan jelas diwakili dalam arsitektur Palladian di Georgia inggris dan
Ireland, selain itu juga dapat ditemui dalam lapisan klasifikasi akhir gaya
barok di Paris, di Berlin, dan bahkan di Roma, Alessandro Galilei pada bagian
muka dari gadeung Giovanni di Laterano. Ini merupakan suatu arsitektur
self-restraint yang sempurna, yang selektif hingga sekarang " yang terbaik"
dalam mengikuti gaya bangsa Roma.
Neoklasikal pertama berkembang dan
dan diperolah di London, melalui contoh dari bangunan Paris-Trained yang
dirancang oleh tuan William chambers dan james " Athenian" Stuart,
dan di Paris, melalui suatu generasi siswa seni Perancis yang training di
Akademi Perancis di Roma dan yang dipengaruhi oleh kehadiran Charles-Louis
Clérisseau dan tulisan Johann Joachim Winckelmann; itu dengan cepat diadopsi
oleh lingkaran progresif di Sweden. Di Paris, banyak dari generasi arsitek neoklasikal
yang pertama menerima pelatihan dalam Tradisi Perancis yang klasik melalui
suatu rangkaian tentang ceramah kuliah praktis dan menyeluruh yang ditawarkan
untuk dekade perkuliahan oleh Jacques-François Blondel.
Pada mulanya Italia bertaut pada Rococo sampai rejim Napoleo membawa arkeologis klasikal yang baru, yang dipeluk sebagai pernyataan politik oleh kaum muda yang progresif. Pusat dari ahli kebudayaan sejarah yunani polish adalah Warsaw di bawah aturan dari Raja polish Stanislaw Agustus Poniatowski. seniman dan arsitek yang dikenal terbaik di Poland tepatnya di Dominik Merlini, diantaranya adalah Jan Chrystian Kamsetzer, Szymon Bogumi Zug, Jakub Kubicki, Antonio Corazzi, Efraim Szreger, Kristen Piotr Aigner, Wawrzyniec Gucewicz dan Bertel.Thorvaldsen.
Pada mulanya Italia bertaut pada Rococo sampai rejim Napoleo membawa arkeologis klasikal yang baru, yang dipeluk sebagai pernyataan politik oleh kaum muda yang progresif. Pusat dari ahli kebudayaan sejarah yunani polish adalah Warsaw di bawah aturan dari Raja polish Stanislaw Agustus Poniatowski. seniman dan arsitek yang dikenal terbaik di Poland tepatnya di Dominik Merlini, diantaranya adalah Jan Chrystian Kamsetzer, Szymon Bogumi Zug, Jakub Kubicki, Antonio Corazzi, Efraim Szreger, Kristen Piotr Aigner, Wawrzyniec Gucewicz dan Bertel.Thorvaldsen.
Karl Friedrich Schinkel's mendesain
bangunan Elisabethkirche di Berlin (1832-1834)
Royal
Scottish Academy, Edinburgh (1822-26), pada serambinya menggunakan tiang-tiang
berbentuk dorik.
Gaya neo klasik mengalami tantangan berat sejalan dengan pesatnya kemajuan tekno-logi. Keyakinan bahwa arsitektur adalah ‘seni bangunan’ yang berbeda dengan kegiatan ‘engineering’ mulai mengalami pergeseran, setelah muncul suatu jarak antara arsitektur dan kemajuan konstruksi,bangunan. Perubahan-perubahan inilah yang kemudian mengarah pada munculnya arsitektur mo-dern. Arsitektur modern sendiri berprinsip pada tradisi fungsional, lebih cenderung pada pemikiran struktur daripada unsur-unsur lainnya.
Dari sekitar tahun 1800 Yunani
merupakan contoh arsitektur yang segar, banyak mensketsa dan mengukir, memberi
suatu daya dorong baru ke gaya meoklasikal atau yang disebut Kebangkitan
kembali ilmu Yunani. Neoclassikal adalah suatu kekuatan utama di dalam seni
akademis sampai abad ke 19 dan di luar daripada itu gaya ini merupakan lawan
yang tepat dari gaya Romantis dan Gotik renasisans walaupun pada akhir abad ke
19 gaya ini diklasifikasikan sebagai gaya anti modern atau bahkan gaya yang
reaksioner. Pada pertengahan abad ke 19, beberapa kota besar Eropa khususnya St
Petersburg dan Munich- diubah bangunannya ke dalam musium Arsitektur
neoklasikal yang dijamin kebenarannya.
Tokoh
Contoh tokoh Arsitektur neoklasikal adalah Karl Friedrich Schinkel’s dan bangunan dari Schinkel'S adalah Museum Tua di Berlin, Tuan John Soane’s arsitek dari Bank Inggris di London dan bangunan baru " capitol" di Washington, DC. Arsitek skotlandia Charles Cameron menciptakan interior mewah gaya Italianate untuk warga kelahiran jerman Catherine II yang agung di Rusia yaitu bangunan St. Petersburg dengan mnggunakan gaya internasional.
Contoh tokoh Arsitektur neoklasikal adalah Karl Friedrich Schinkel’s dan bangunan dari Schinkel'S adalah Museum Tua di Berlin, Tuan John Soane’s arsitek dari Bank Inggris di London dan bangunan baru " capitol" di Washington, DC. Arsitek skotlandia Charles Cameron menciptakan interior mewah gaya Italianate untuk warga kelahiran jerman Catherine II yang agung di Rusia yaitu bangunan St. Petersburg dengan mnggunakan gaya internasional.
4) RUMAH GAYA
KLASIK VICTORIA
Contoh rumah gaya sebuah karya
arsitektur adalah bagian dari tren. Setiap orang boleh mempunyai selera akan
gaya tetapi tidak setiap gaya harus menjadi bagian hidup seseorang. Karena itu
setiap gaya dalam bidang arsitektur bisa tetap langgeng dan pasti selalu ada penggemarnya.
Demikian juga sebuah karya yang akan di bahas ini, boleh dikatakan spesifik dan
cukup langka ditengah era rumah
minimalis
dan tropis modern, yaitu gaya klasik victorian yang elok dan nyaman. Hunian yang berlokasi di kawasan Pondok Kelapa. Jakarta
Timur ini merupakan kediaman keluarga H. Sudirman M.R. yang dirancang oleh
arsitek Darwandi dan desainer interior Dyah Retnowati dari tim konsultan Cipta
Selaras.
Hal
ini terlihat dari pemakaian elemen bangunan yang khas seperti pintu-pintu yang
tinggi dan jendela dengan daun dobel yaitu daun jendela luar berupa krepyak sedangkan daun
jendela dalamnya dilengkapi kaca.
Massa bangunan juga dirancang simetris dan memperlihatkan hierarki ruang di antaranya bagian muka dilengkapi oleh dua buah pintu untuk akses keluar masuk dan portico di tengahnya untuk drop off dari kendaraan.
Di samping itu, sosok bangunan memperlihatkan sistem perimbangan yang tepat seperti lantai dasar sebagai bagian kaki, lantai atas sebagai badannya dan atap sebagai kepala bangunan.
Khusus
bagian atap, diterapkan bentuk atap khas gaya klasik Victorian Italianate
(sebuah periode dalam perkembangan rumah Victorian Style), berupa atap curam
dengan bagian puncaknya seakan-akan terpancung, dan dihiasi dengan
jendela-jendela yang menonjol keluar dari bidang atap curam tersebut.
Arsitek
juga mengadop elemen lain khas Victori-Italianate berupa cupola, yakni bagian
bangunan yang muncul di antara susunan atap/massa bangunan yang menjulang ke
atap mirip menara. Pada bangunan ini cupola tersebut denahnya berbentuk segi-6
dengan jendela-jendela keliling dan atapnya berbentuk kubah.
Cupola
ini di samping berperan sebagai point of view juga bertungsi sebagai sumber
pencahayaan alami bagi ruang dapur yang berada tepat di bawah kubah di lantai
dasar. Bentuk cupola kubah seperti ini sering kita jumpai pada
bangunan-bangunan kolonial di Indonesia, misalnya museum Fatahillah, gedung
Bank Indonesia Cabang Solo, dan gedung Lawang Sewu.
Elemen
lainnya khas gaya klasik Victorian juga berupa profil dekoratif yang menghias
dinding, jendela dan pagar rumah. Pemakaian material besi ulir dengan motif
stilasi melengkung pada pagar di balkon dan tangga dalam serta finishing duco
warna off white pada setiap penggunaan kayu semakin menegaskan suasana gaya
klasik di rumah ini.
Selain
itu, beberapa elemen bangunan tropis diterapkan untuk mengantisipasi perubahan
iklim tropis lingkungan. Contohnya teritis dan overstek dibuat lebih lebar dari
pakem bangunan gaya klasik pada umumnya. Jendela yang lebar dan platon yang
tinggi juga berhasil mengoptimalkan sirkulasi udara dan masuknya cahaya alami
ke dalam rumah sehingga ruang dalamnya terasa nyaman. Pemakaian material alami
seperti batu kali yang melapisi lantai pintu masuk dan tanaman di halaman muka
juga memberikan sentuhan alami yang menyegarkan.
Untuk
penataan di dalam rumah, arsitek dan desainer interior berupaya menciptakan
kesan lapang dan impresif terutama di sekitar pintu masuk utama yang merupakan
area menerima tamu. Oleh karena itu, dirancang foyer yang menyatu dengan tangga
di bagian muka rumah dan area tersebut dirancang dengan void dua lantai dan
plafon setinggi 6 m.
Tidak
hanya itu, tangga dan dinding juga didesain berbentuk separuh lingkaran dan
plafonnya dihias dengan lis profil yang disusun menyerupai sarang lebah
sehingga menjadi eye catcher di area ini. Selanjutnya ruangan tamu ditempatkan
di sebelah foyer dan terdapat bidang partisi yang menyekat antara foyer dan
area dalam rumah sehingga privasi penghuni tetap terjaga.
Masuk
ke bagian dalam, akan kita temukan ruangan keluarga yang dirancang langsung
menghadap ke ruangan makan dan teras belakang sehingga dapat menampung
aktivitas saat ada acara bersama.
Living
area ini hanya disekat oleh jendela kaca lebar sehingga memiliki pemandangan
lepas ke arah kolam renang di halaman belakang. Kamar tidur dan kamar mandi
utama ditempatkan dl lantai dasar dengan jendela lebar ke arah halaman belakang
sedangkan area servis dan garasi berada di sisi lain dari kaveling hunian. Di
lantai atas, arsitek membuat sebuah ruang hobi yang dikelilingi oleh dua buah
kamar tidur anak dan sebuah gazebo di balkon belakang yang menjadi tempat
favorit untuk bersantai di sore hari.
|
Dengan
mengacu pada prinsip interior gaya klasik, desainer memadu padankan motif
floral dengan motif garis-garis seperti terlihat pada pemakaian wallpaper dan
soft furnishing di hunian. Pada furniturnya, terlihat ciri khas gaya klasik
pada bentuk melengkung dan sentuhan warna emas yang dapat memberikan kesan
mewah dan menarik. Sebagian besar furnitur diberi finishing duco dan dilengkapi
oleh jok yang dilapisi oleh pelapis lembut.
Dengan
demikian, furnitur ditata bukan sekadar memenuhi fungsi saja tetapi juga
berfungsi sebagai benda seni (art work) yang dipadukan dengan aksesori interior
lainnya seperti karpet, gorden dan lampu. Benda seni koleksi pemilik juga
memainkan peranan penting dalam menciptakan “jiwa” hunian dan menegaskan
kepribadian pemiliknya. Secara keseluruhan hasil kerja sama yang harmonis
antara pemilik, arsitek dan desainer interior ini dapat mewujudkan sebuah
hunian idaman.
Gb.
2 Bagian muka rumah dilengkapi oleh portico di tengahnya untuk drop off dan
kendaraan dan elemen dekoratif khas contoh rumah gaya klasik Victorian berupa
profil dekoratif yang menghias dinding, jendela dan pagar rumah.
Gb.
3 Pemakaian material besi ulir dengan motif stilasi melengkung pada pagar di
balkon semakin menegaskan suasana gaya klasik di rumah ini.
Gb.
4 Masuk ke bagian dalam, akan kita temukan ruangan keluarga yang dirancang
langsung menghadap ke ruangan makan dan teras belakang sehingga dapat menampung
aktivitas saat ada acara bersama.
Gb.
5 Ciri khas gaya klasik terlihat pada bentuk melengkung dan sentuhan warna emas
yang dapat memberikan kesan mewah dan menarik. Sebagian besar furnitur diberi
finishing duco seperti terlihat pada ruang makan.
Gb.
6 Dalam menata ruangan dalam, desainer menerapkan interior bergaya klasik
Amerika yang ornamen dekoratifnya lebih sederhana dibandingkan dengan gaya
klasik Eropa seperti terlihat pada detil pagar tangga dan motif wallpaper-nya.
Gb.
7 Tangga dan dinding juga didesain berbentuk separuh lingkaran dan plafonnya
dihias dengan lis profit yang disusun menyerupai sarang lebah sehingga menjadi
eye catcher di area ini.
Gb.
8 Karakter khas gaya Victorian terlihat dari pemakaian elemen pintu-pintu yang
tinggi dan jendela dengan daun dobel yaitu daun jendela luar berupa krepyak
sedangkan daun jendela dalamnya dilengkapi kaca dan teralis dari besi ulir.
Gb.
9 Gazebo yang terletak di balkon belakang menjadi tempat favorit untuk
bersantai di sore hari.
5) KLASIK NAN ARTISTIK
“Elegan, nyaman dan indah”, demikian
kira-kira komentar orang saat berkunjung ke sebuah rumah tinggal bergaya neo
klasik yang berada di kawasan Kedoya, Jakarta Barat ini. Awalnya, bangunan dua lantai ini hanya disiapkan sebagai
paviliun dari rumah induk yang berada di kaveling sebelah. Namun kemudian
kebutuhan pemilik berkembang. Bangunan ini dirancang juga untuk tempat
olah raga pribadi, tempat berkumpul dan bersantai baik bersama keluarga maupun
bersama kolega pemilik. Bangunan yang dirancang oleh arsitek Ir. Handajanto
Sundojo dari PT Istasadhya Arsi ini juga mempertimbangkan alurnya dengan rumah
induk seperti koridor penghubung dalam dan konsistensi detail ornamental sehingga
tampil harmonis dan elegan.
Mengacu
pada tampilan rumah induk, arsitek memilih konsep arsitektur bergaya neo klasik
untuk bangunan baru, tanpa melupakan prinsip bangunan tropis. Hal ini terlihat
dari komposisi elemen yang serba simetris dan ornamen dekoratif yang bermotif
melengkung. Konsep ini diimbangi oleh dominasi teritis yang lebar dan deretan
jendela untuk sirkulasi udara segar serta masuknya cahaya alami ke dalam rumah.
Fasada rumah didominasi oleh warna putih gading dan cokelat serta dihias dengan
cladding dengan batu sandstone yang dipadukan dengan ukiran pada batu mocca
cream serta profil pada lisplank.
Pintu masuk utamanya sengaja
dinaungi oleh portico dan sepasang kolom. Letaknya menjorok ke dalam untuk
menegaskan kesan yang “hangat” dan mewah. Untuk susunan ruang dalam, arsitek
menata ruang-ruang bersifat publik secara terbuka dan mengalir agar dapat
menampung tamu dalam jumlah banyak. Melangkah ke dalam, kita menemui area foyer
yang dilengkapi oleh void dua lantai dan bersisian dengan ruangan kerja yang
merangkap perpustakaan pemilik. Di tengah rumah, terdapat area transisi yang
mengantar kita ke ruangan serba guna, tangga dan halaman belakang.
Area
transisi ini bersisian dengan pantri dan area makan pagi sedangkan teras berada
di pinggir kolam renang. Ruangan serba guna berukuran 10 m x 10 m dirancang
dengan plafon setinggi dua lantai yang dimanfaatkan untuk jamuan makan resmi,
tempat rapat dan acara hiburan seperti panggung menyanyi dan berdansa. Area
menarik lainnya adalah kolam renang berukuran 20 m x 10 m yang diberi naungan
berupa atap datar yang ditopang deretan kolom sehingga saat berolah raga tidak
terkena sinar matahari. Atap kolam ini juga dilengkapi oleh tiga buah lubang
sehingga suasana di bawahnya tidak gelap atau sumpek.
Bagian tepi atap dirancang berupa
kisi-kisi untuk tanaman rambat sedangkan area tepi kolam dikelilingi oleh taman
sederhana sehingga suasana kolam renang menjadi segar. Salah satu sisi kolam
renang didesain sebagai fokus perhatian dengan bentuk melengkung dan hiasan
berupa pagar dan patung. Beranjak ke lantai atas, kita dapat bersantai di
ruangan duduk atau beristirahat di kamar-kamar tidur tamu yang dilengkapi
dengan kamar mandi dalam. Interior bangunan ini dirancang oleh Alexander
Hudianto Wibowo dari PT Damar Mastercraft sedangkan desainnya terpadu dengan
arsitektur yang bergaya neo klasik.
Ciri
khas neo klasik terlihat pada sistem proporsi, penataan yang serba simetris dan
pola pengulangan / repetitif yang menghadirkan kesan formal dan teratur pada
interior rumah. Hal ini terlihat pada lis profil dan panelling yang menghias
bagian kolom dan dinding serta cornice pada plafon.
Gaya neo klasik yang sudah
dimodifikasi juga diterapkan di antaranya pola kotak-kotak pada plafon gantung
yang dilengkapi oleh lampu tersembunyi untuk menghilangkan kesan “berat” dari
ornamen dinding. Aplikasi gorden, vitrage dan karpet juga berperan penting
untuk membentuk suasana nyaman dan “hangat” di ruangan.
Desainer melapisi hampir seluruh
lantai dalam dengan marmer jenis crema marvil yang dikombinasikan dengan motif
serat kayu antik sebagai bingkai tepinya. Furnitur yang khas klasik seperti
kursi berlengan dan sofa berukuran besar serta finishing antique wash menghias
setiap ruang. Ruangan serba guna sebagai pusat aktivitas di bangunan, dirancang
bergaya klasik Eropa yang lebih “berat” di antaranya berupa ornamen ukiran pada
cornice dan panelling dinding serta lukisan mural. Untuk memperindah ruangan,
desainer memadukan furnitur dengan benda-benda seni yang serasi dengan gaya
klasik.
Benda
seni seperti lukisan, tapestry, patung dan aksesori berupa lampu dan bantal
hias tampil menyatu dalam penataan interior dengan mengacu pada konsep rumah
galeri (home gallery) sehingga menjadi eye catcher dalam ruangan.
Tata pencahayaan jenis spotlight
atau jenis downlight juga sudah dipasang untuk menyorot keindahan benda seni.
Hal ini juga diterapkan pada area sekitar kolam renang agar tercipta suasana
yang menawan. Secara keseluruhan, desain bangunan yang elegan, interior yang
klasik dan benda seni di rumah ini berhasil mengekspresikan gaya hidup
penghuninya.
Tidak ada komentar:
Write komentar